Keinginan
adalah sebuah kata yang membuat seseorang untuk bermimpi. Bermimpi pasti
mengharapkan sebuah indahnya kebahagiaan, dan sedikit sekali seseorang bermimpi
untuk menjadi orang yang buruk. Kalaupun dia bermimpi menjadi penjahat
sekalipun pastilah menjadi penjahat yang terbaik bagi dirinya.
Sama
seperti berubah, sebuah kata yang menjadikan seseorang berbeda. Bisa menjadi
lebih baik dan menjadi lebih buruk. Lantas apa yang akan di bahas, tentunya
berhubungan dengan kedua kata mimpi dan berubah. Tepatnya MERUBAH MIMPI.
Kenapa
kita perlu merubah mimpi? Karena seiring berjalannya waktu hidup dan kebutuhan
kita berubah, dan semua menjadi berubah. Entah sedikit entah sedang ataukah
banyak perubahan akan selalu terjadi pada seseorang.
Ibaratkan
saja ini soal pakaian yang akan kita kenakan, berada si padang pasir yang panas
kita akan mengganti pakaian yang berbahan adem, tak mungkin pakai jaket berbulu
tebal. Pindah mendiami sebuah kota di Eropa dan menjumpai musim dingin, pakaian
dinginlah yang akan di kenakan. Contoh yang lebih gampang lagi berolah raga
kita akan mengenakan kaos dan training. Tidur tak mungkin mengenakan baju
pengantin, bergaun berpayet dan bling bling. Kecuali kalau kita ketiduran itu
beda lagi.
Hemm,
sudah yang jelas intinya manusia berubah karena merupakan sebuah kebutuhan,
menurutku perubahan itu mutlak adanya.
Sama
seperti ketika memijakkkan kaki dan mendiami sebuah tempat yang memiliki
suasana berbeda. kini aku berada di rumah, tempat ini adalah awal mula sebuah
mimpi terangkai, mimpi tentang cinta, kasih sayang dan pertahanan hidup.
Yang
kini bisa ku lihat dan sangat menjadi pedoman mimpi yang selalu berubah ke arah
terbaik, adalah lingkungan rumah ku. Rumah ini merupakan rumah kecil yang
selalu terasa hangat bagi ku, membuat aku tersenyum dan merasakan aura
penyambutan yang luar biasa ketika memasukinya.
Suasana
ini yang selalu di nantikan, Bapa berada di depan menjadi imam dan aku berjajar
dengan Mamah. Yap.. kita bersama melakukan sholat jamaah.
Sungguh
bom amat dasyat selalu berhasil meledakkan tangis di dalam dada. Mendengar
suara Bapa, berjajar dengan Mamah berdoa bersama, adalah sebuah kebahagiaan
yang amat membuat hati ini menangis. Menangis karena bahagia, namun juga
menangis sedih. Sedih ini bukan sedih yang biasa, namun sedih ini karena
terbayang bahwa “Ya Tuhan sampai kapan aku bisa menikmati indahnya kehangatan
ini”.
Bapa
semakin tua Mamah pun juga, dan aku tak mengerti aku berumur sampai kapan.
Bercengkrama bersama, berbicara masa depan bersama, berbicara kekonyolan
bersama, bahkan tak luput ada perselisihan unik yang selalu terjadi. Entah itu
soal tayangan televisi, baju, makanan, bahkan barang yang di letakkan. Ahh..
sungguh keluarga ini selalu aku rindukan.
Seusai
sholat Mamah mencium tangan Bapa dan aku pun demikian, butiran air mata ini
semakin ingin meluap. Oh Bapa inilah anakmu, aku sudah tumbuh menjadi seorang
gadis dewasa. Pernahkah kau berfikir dosa apa yang membahayakanmu karena ulah
anak gadismu ini? Oh Bapa aku sungguh mencintaimu, namun terkadang aku selalu
membahayakanmu. Betapa aku ingin memelukmu, mencium pipimu dan mencium kakimu,
aku amat bangga memiliki Bapa sepertimu.
Yang telah mengajarkanku menjadi anak yang selalu mensyukuri hidup walau
itu sederhana dan amat sulit.
Mamah,
aku pun mencium tangan Mamah. Mamah aku ingin mengatakan ini padamu akulah anak
gadismu yang amat nakal, taukah kapan anak gadismu ini mengumpatkan hal-hal
yang seharusnya di tinggalkan. Taukah jika aku bisa membawamu ke lubang yang
membahayakan dan memilukan bahkan menyiksa. Oh Mamah aku ingin selalu bisa
memeluk dan tidur di sampingmu. Hangat dan harumya tubuhmu yang selalu membuat
aku merasa terlindungi dan membuat aku pulas tertidur, selalu berhasil membuat
aku nyaman berada di sampingmu. Genggaman mu yang amat membuat anakmu ini kuat
menjalani dan berjuang untuk hidup selalu aku nantikan. Tangis kebahagiaan
Mamah selalu aku nantikan ketika mendengar kabar kebahagiaan dari ku, sederhana
kau selalu tersenyum bahagia ketika nilai sekolah ku begitu memuaskan hatimu.
Mamah
betapa aku selalu merindukan suaramu membangunkanku di pagi hari, menyuruhku
sholat subuh dan mandi, menyapu atau makan. Mamahhhh kata kata itu yang selalu
ku ucap sesampai di rumah. “Pa mamah di mana?” jawabnya selalu “Kokerod” maksudnya
di warung mbah kerod. Hahaha. Sungguh pertanyaan yang membudaya pada diri ini.
Aku selalu merindukan dan menginginkan Mamah selalu di sampingku.
Oh
Bapa Oh Mamah, anak gadismu ini juga akan semakin dewasa dan tua seperti
kalian. Dan tak mungkin jika aku berharap bisa selalu di temani seumur hidup
bersama kalian. Sebuah usia tak ada yang mengerti hingga kapan. Dan sebuah
hidup tak sebecanda yang di bayangkan. Bukan sekedar episode yang bisa selalu
membahagiaakan, karena kehidupan sekarang ini amatlah sangat berat. Hidup ini
akan menentukan dengan siapa aku kelak bertemu. Ya, akankah kita di pertemukan
kembali di alam selanjutnya?.
Oh
Bapa Oh Mamah akankah doa ku di dengar oleh Tuhan, apakah aku termasuk anak
sholehah kalian. Hemmm.. mimpi dan harapan sampaikanlah semua ini, aku ingin
selalu jadi anak yang membawa mereka ke tempat yang membahagiakan. Aku ingin
selalu membuat kalian bahagia pa, ma.
Sungguh
aku takut Tuhan menjadikan aku alasan kalian mendapat bahaya, karena aku sangat
menyayangi kalian. Hanya satu menjadi anak berbakti, dan selalu bisa menyayangi
dan dikasihi oleh kalian. Yap.. bukan sekedar cerita cinta untuk seorang pria
yang entah bisa seperti Bapa yang begitu hebat atau tidak. Bukan cinta untuk
seorang pria yang entah akan menuntun ku kearah yang lebih baik atau tidak.
Karena sekarang waktunya aku membuat Bapa Mamah menjadi makhluk paling
beruntung memiliki anak sepertiku. Ya jangan sampai kelak mereka menyesali
telah melahirkan dan menjagaku dari titipan Tuhan. Sungguh cinta ini tulus
selalu untuk kalian. Kalian tak akan pernah membuat hati ini menangis
ketakutan, tak pernah membelah hati ini menjadi teriris-iris karena cinta ini
berbeda. Cinta yang kekal dan selalu suci. Love Bapa Love Mamah. Kalian adalah
perubah mimpi yang mulia sepanjang masa.
Akulah anakmu yang nakal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar