Senin, 23 Mei 2016

Sepucuk Surat Kedua untuk Aku





Hai? ya kamu kembali lagi ke zona yang seperti itu. Hai sedang apa hatimu kini? Hai kamu ingatkah dulu juga hal itu pernah terjadi, dan kini terulang kembali. Bukankah kau menginjak kubangan yang sama?
Hai masih mau menitikkan rintikan di lembah parasmu itu? Sadarkah, sudah tak ada gunanya. Berkali-kali menuntut lebih dan lebih baik, berkali-kali pula lemah denga hal itu lagi.
Hal di mana mementingkan yang seharusnya belum pantas di perjuangkan. Sadarkah? tidakkah kau lelah dengan hal yang tak pasti. karena mungkin pernah memantapkan ia menjadi hal yang amat dan harus, hingga memastikan bahwa ialah tujuan hidup di kemudian. Tapi sadarkah ia saja belum memastikan, lantaran yang ia rasa saja belum jelas, yang ia punya saja belum tuntas, kok aku ingin memaksakan kehendak tetap ada dan bertahan.

Berbicara tentang rasa, lambat laun aku pun meronta. Rasa ini adalah rasa yang sejatinya abstrak ketika bersamanya. Jika di tanya orang lain mungkin sebuah rasa yang amat mantap. Tapi ketika justru ia yang bertanya, aku tak bisa menjelaskan apa ini. Sadar, akupun tersadar ternyata ak bimbang dengan yang di rasa.
Mungkin akhirnya sesak, ketika berkorban mati-matian namun ternyata di mangkuk yang salah. Mau beranggapan akan terasa enak dan nikmat jika di lahab, ternyata salah ciduk ya... rasanya akan pahit dan getir dihati. Apa kau sadar? karena kau tetap saja memaksakan untuk melahap hingga habis. Tentu pahitnya akan sulit untuk di timpali rasa lain atau manggkuk yang seharusnya dan sebenarnya.
Sudah, yang jelas kini kubangan itu kembali hadir, kau bisa jongkok di sampingnya dan menatap air yang menggenang. Kau pun bisa melihat parasmu ketika sinar datang menerangi sedikit kubangan itu. Lalu kubangan berkata padamu.
 “hai kau, akankah kau kembali mencahcahkan kakimu di sini, sekarang aku sudah amat dalam loh…”. 
yang kau lakukan terdiam beberapa saat, sedikit berfikir keras dan mengelus dada yang menggelisir karena terlilit dan tersayat. Rintikan gerimis kecil kembali hadir di paras, dan sedikit menambah volume kubangan itu. Namun, tak butuh waktu lama, ketika mangkuk yang kau pilih itu dijatuhkannya dan ia membantingnya hingga lebur selebur-leburnya, gerimis itu tak hayal menjadi air terjun, justru berubah menjadi hingar binger sinar matahari yang amat terang. Yah kau kembali tersadar saatnya menutup kubangan dengan tanah agar tak menggenang lagi. 
kau telah sadar bahwa : ia bisa memecahkan mangkuk yang selama ini kau sayang dan rawat, mangkuk yang telah mengalihkan makanan-makanan ilmu kehidupan yang sebenarnya. Mangkuk yang selalu kau jaga dan cuci dengan rasa tulus, dan membuat kau rela berkorban hal apapun agar tak retak atau pecah. Akhirnya di pecahkan juga oleh si empunya. Sekarang pertanyaan ini yang perlu kau renungkan : "apakah kau kecewa padanya?"
tak lama, pertannyaan tadi terjawab, ternyata pada akhirnya sinar matahari ini memberi panas ke tanah yang melengkung dan berkubang itu, lambat laun kubangan menjadi dangkal dan menyurut. Mungkin memang masih sedikit basah. Namun sinar ini harus selalu dan tak boleh padam kembali. Cukup tetaplah bersinar, dan jika ada rintik hujan kau harus menciptakan pelangi yang mewarnai awanmu, bukan mendung yang meminta datang dan petir yang menyambar-nyambar.
Jadi intinya, Secinta-cintanya bumi pada iklim, cuaca buruk tak akan membuat bumi terus menangis, ia akan memberi kekokohan walaupun badai tornado datang. Bumi akan tetap kembali bangkit dan tumbuh menjadi kesatria tanpa tandingan.
Kau harus tau, bencana itu pasti diberi karena untuk mengingatkan yang lalai dan menguatkan yang setia. Semua pasti ada hikmahnya, jika ia adalah relawanmu, tentu akan membantumu merangkak dalam hal yang pasti dan baik. Dan relawan akan memperjuangkan keselamatan, kesehatanmu. Ia rela membopongmu jika tulang-tulangmu patah, ia rela mengangkut jenasahmu jikalau kau mati di tengah bencana. Namun jika ia bukanlah relawanmu, ia akan acuh dan pergi walau tau kau bersimbah darah. Yakinlah suatu saat tangan yang lebih kokoh, kuat namun lembut akan datang menuntun jauh dari bencana yang menimpa di dunia. 
Begitulah akhirnya, Semoga kau menjadi pelanet yang beruntung bak bumi yang menghidupi trilyunan makhluk hidup.
Tetaplah jadi diri yang tegar, yang pantang mengeluh, mandiri, dan bisa menjadi diri yang cerdas kembali. Hingga tak ada ia yang bisa membodohi, bahkan menebas kekokohan benteng, rumah dan istanamu.
Bangun kembali semua kota di bumi, kota yang bersih indah nyaman dan tentram. Semangat menjalani hal yang pasti dan menyenangkan wahai kau.


Untuk kau si "AKU" yang amat bodoh_

Tidak ada komentar: