Sabtu, 26 April 2014

Sudah Berakar dan Kuat


Setelah berfikir panjang lebar dan tinggi ke atas, aku semakin bingung pula dengan hasilnya. Di satu sisi bilik kehidupanku mengatakan tidak, namun di sisi yang lain tembok betonku meronta mengatakan ia. Mana yang harus ku turuti kata bilik atau tembok beton?
Kebingunganku semakin di perparah dengan tamu-tamu yang mengetuk pintu kayuku. Mereka memaksakan diri untuk masuk dan merebut kunci di tangan ku. Mereka membawa segudang buah tangan yang siap di lempar ke mukaku.saat mereka beranjang-ancang untuk meempar, aku tak bisa terhindar. Hingga lemparan-lemparan itu tepat mengenai mukaku. Mereka mulai mendekat, mendekat, dan lebih mendekat. Dan saat ini lah yang membuat mataku semakin membelalak. Mereka menjulurkan tangan dan menudingkan jarinya tepat di mataku.

Rabu, 16 April 2014

Antara Benteng, Rumah dan Istana


Kuat, keras, dan sangat kokoh. Itu yang ku harapkan dulu. Tapi itu dulu jauh sebelum kau datang. Datang mengunjungi benteng yang ku bangun bertahun-tahun ini. Benteng yang dulu berdiri tegak dengan segala kekuatannya kini semakin rapuh. Di sana Kau dapat melihat garis retak-retak seperti otot monster. Bahkan lubang-lubang pun tercipta, menganga seakan menyapa kehadiranmu. Saat itulah aku tak berdaya. Aku tak lagi dapat menembelnya dan menyiapkan amunisi untuk mempertahankan bentengku.
Taukan ketika getaran itu kau hadirkan, getaran yang terasa bagaikan gempa itu telah meruntuhkan bentengku secara perlahan. Bahkan ketika kau tiupkan tornado di pintu samping bentengku itu, semua isi bentengku hancur porak poranda.
Lalu aku harus bagaimana?