Setelah berfikir panjang lebar dan
tinggi ke atas, aku semakin bingung pula dengan hasilnya. Di satu sisi bilik
kehidupanku mengatakan tidak, namun di sisi yang lain tembok betonku meronta
mengatakan ia. Mana yang harus ku turuti kata bilik atau tembok beton?
Kebingunganku semakin di perparah
dengan tamu-tamu yang mengetuk pintu kayuku. Mereka memaksakan diri untuk masuk
dan merebut kunci di tangan ku. Mereka membawa segudang buah tangan yang siap
di lempar ke mukaku.saat mereka beranjang-ancang untuk meempar, aku tak bisa
terhindar. Hingga lemparan-lemparan itu tepat mengenai mukaku. Mereka mulai
mendekat, mendekat, dan lebih mendekat. Dan saat ini lah yang membuat mataku
semakin membelalak. Mereka menjulurkan tangan dan menudingkan jarinya tepat di
mataku.
