Sabtu, 26 April 2014

Sudah Berakar dan Kuat


Setelah berfikir panjang lebar dan tinggi ke atas, aku semakin bingung pula dengan hasilnya. Di satu sisi bilik kehidupanku mengatakan tidak, namun di sisi yang lain tembok betonku meronta mengatakan ia. Mana yang harus ku turuti kata bilik atau tembok beton?
Kebingunganku semakin di perparah dengan tamu-tamu yang mengetuk pintu kayuku. Mereka memaksakan diri untuk masuk dan merebut kunci di tangan ku. Mereka membawa segudang buah tangan yang siap di lempar ke mukaku.saat mereka beranjang-ancang untuk meempar, aku tak bisa terhindar. Hingga lemparan-lemparan itu tepat mengenai mukaku. Mereka mulai mendekat, mendekat, dan lebih mendekat. Dan saat ini lah yang membuat mataku semakin membelalak. Mereka menjulurkan tangan dan menudingkan jarinya tepat di mataku.
Kukunya yang begitu tajam mulai menyentuh wajahku. Srekkkk… itulah bunyinya. Darah mulai mengalir lewat pipiku, guratan itu semakin panjang dan dalam. Sungguh perih rasanya. Kini aku telah tercoreng dengan darah merah mengalirinya.
Salahkah?
Atau memang harus begitu?
Semua sudah terlanjur terjadi, dan bahkan sudah mengakar di otak ku. Mungkin, akan sulit bagiku untuk mencabutnya kembali. Walau itu baru tertanam beberapa bulan yang lalu, tapi bagiku telah tumbuh berpuluh-puluh tahun silam.
Bisa saja sekarang ini semuanya ku tebas dan akhirnya ku bakar menjadi abu yang akan terbang di bawa angin. Tapi aku tak tega melakukannya. Bukan karena aku tak tegas atau aku tak sanggup tapi karena aku ingin mengubahnya menjadi pohon lebat yang memiliki akar yang lebih kuat.
Jikalau sewaktu-waktu kau tumbang, aku tak akan menangis. Hanya saja aku akan menyesal pernah mempedulikan dan merawat semuanya menjadi tumbuh dan berakar seperti saat ini.
Semua sudah terlanjur, dan aku lah yang mengawalinya. Aku yang sudah menggali lubang menanam dan menimbun kembali agar tak kemana-mana. Aku lah yang selama ini sudah menyiraminya. Dan pada akhirnya aku hanya bisa berkata, sudah cukup, cukup, dan cukup satu ini saja. Jangan di tumbangkan dan jangan di matikan atau bahkan dibakar menjadi abu yang berterbangan.

Tidak ada komentar: