Setelah berfikir panjang lebar dan
tinggi ke atas, aku semakin bingung pula dengan hasilnya. Di satu sisi bilik
kehidupanku mengatakan tidak, namun di sisi yang lain tembok betonku meronta
mengatakan ia. Mana yang harus ku turuti kata bilik atau tembok beton?
Kebingunganku semakin di perparah
dengan tamu-tamu yang mengetuk pintu kayuku. Mereka memaksakan diri untuk masuk
dan merebut kunci di tangan ku. Mereka membawa segudang buah tangan yang siap
di lempar ke mukaku.saat mereka beranjang-ancang untuk meempar, aku tak bisa
terhindar. Hingga lemparan-lemparan itu tepat mengenai mukaku. Mereka mulai
mendekat, mendekat, dan lebih mendekat. Dan saat ini lah yang membuat mataku
semakin membelalak. Mereka menjulurkan tangan dan menudingkan jarinya tepat di
mataku.
Kukunya yang begitu tajam mulai menyentuh wajahku. Srekkkk… itulah bunyinya. Darah mulai mengalir lewat pipiku, guratan itu semakin panjang dan dalam. Sungguh perih rasanya. Kini aku telah tercoreng dengan darah merah mengalirinya.
Kukunya yang begitu tajam mulai menyentuh wajahku. Srekkkk… itulah bunyinya. Darah mulai mengalir lewat pipiku, guratan itu semakin panjang dan dalam. Sungguh perih rasanya. Kini aku telah tercoreng dengan darah merah mengalirinya.
Salahkah?
Atau memang harus begitu?
Semua sudah terlanjur terjadi, dan
bahkan sudah mengakar di otak ku. Mungkin, akan sulit bagiku untuk mencabutnya
kembali. Walau itu baru tertanam beberapa bulan yang lalu, tapi bagiku telah
tumbuh berpuluh-puluh tahun silam.
Bisa saja sekarang ini semuanya ku
tebas dan akhirnya ku bakar menjadi abu yang akan terbang di bawa angin. Tapi aku
tak tega melakukannya. Bukan karena aku tak tegas atau aku tak sanggup tapi
karena aku ingin mengubahnya menjadi pohon lebat yang memiliki akar yang lebih
kuat.
Jikalau sewaktu-waktu kau tumbang,
aku tak akan menangis. Hanya saja aku akan menyesal pernah mempedulikan dan
merawat semuanya menjadi tumbuh dan berakar seperti saat ini.
Semua sudah terlanjur, dan aku lah
yang mengawalinya. Aku yang sudah menggali lubang menanam dan menimbun kembali
agar tak kemana-mana. Aku lah yang selama ini sudah menyiraminya. Dan pada
akhirnya aku hanya bisa berkata, sudah cukup, cukup, dan cukup satu ini saja. Jangan
di tumbangkan dan jangan di matikan atau bahkan dibakar menjadi abu yang
berterbangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar