Kuat, keras, dan
sangat kokoh. Itu yang ku harapkan dulu. Tapi itu dulu jauh sebelum kau datang.
Datang mengunjungi benteng yang ku bangun bertahun-tahun ini. Benteng yang dulu
berdiri tegak dengan segala kekuatannya kini semakin rapuh. Di sana Kau dapat
melihat garis retak-retak seperti otot monster. Bahkan lubang-lubang pun
tercipta, menganga seakan menyapa kehadiranmu. Saat itulah aku tak berdaya. Aku
tak lagi dapat menembelnya dan menyiapkan amunisi untuk mempertahankan
bentengku.
Taukan ketika
getaran itu kau hadirkan, getaran yang terasa bagaikan gempa itu telah
meruntuhkan bentengku secara perlahan. Bahkan ketika kau tiupkan tornado di
pintu samping bentengku itu, semua isi bentengku hancur porak poranda.
Lalu aku harus
bagaimana?
Aku tak berdaya
jika ku harus membangun ulang benteng ini. Semua sudah terlanjur jauh. Sangat jauh
menurutku. Bahkan kini kau telah membangun rumah dalam bentengku. Aku tak tahu
dengan semua perbuatanmu. Apakah ini yang kau anggap baik, menghanjurkan demi
menjajah negaraku?.
Pasukanku tak
sekuat pasukanmu. Peluruku tak sebanyak pelurumu. Bahkan strategiku tak sejitu
strategimu. Aku menyadari itu, bahkan aku tahu aku kalah darimu.
Saat-saat
seperti inilah yang muai menyadarkanku, dulu ku mungkin mengatakan tak mungkin
kau bisa kalahkan ku. Bahakan membangun rumah dalam negaraku. Tapi takdir Tuhan
telah membantahnya. Apa yang terjadi?
Aku mulai nyaman
dengan rumah yang kau bangun itu. Meski rumah itu bukan rumah idamanku, tapi
aku suka dengan semua desain bahkan aku suka dengan interior yang kau pilih. Rumah
ini sangat sederhana, jauh dari kesan mewah dan mahal. Tapi sungguh akau nyaman
sekali dengan rumah mu.
Aku harap ini
bukan kutukan dari tingkahku. Dan aku tak tau kenapa bisa begitu. Mungkin TAKUT
itu yang ku rasa kini. Aku takut kau akan membongkar rumahmu dan meninggalkan
puing-puing yang tak berarti di negeri ku ini. Aku takut kau akan mencari lahan
baru yang lebih lebar dan lebih indah. Sungguh aku takut.
Kini aku merasa
aku mulai takut kehilanganmu. Dan aku tak ingin rasa lain hadir dan membuatku
semakin terkurung. Tapi aku tak kuasa mendengarkan omongan ajudan-ajudanku
untuk tetap diam dan merasakan semua menjadi seperti air yang mengalir.
Aku tersadar dan
mulai membuka mataku, ternyata aku mulai suka dan takut kehilangan. Tapi bisakah
kau menjaga semua perasaan ku ini hingga kita dapat membangun kerajaan yang
sangat kokoh?
Yang memiliki
taman indah di dalamnya. Bahkan mengukirkan sebuah sejarah dunia yang sangat
membahana. Jujur saja aku mengharapkan itu.
Namun aku tak
bisa terus berbohong, bahwa aku juga takut terjajah seluruhnya oleh mu. Aku ingin
kau memberikanku sedikit celah untuk tak terikat. Aku ingin kau memberi lubang
udara di rumah yang kau bangun itu. Agar aku bisa menghirup udara segar jika ku
di dalamya. Bahkan agar ku bisa melihat bulan yang bulatnya belum sempurna itu.
Bulaan yang terlihat seperti kita yang dewasa tapi belum sempurna. Lalu timbullah
sejumlah pertannyaan yang mungkin akan membuat kudukku semakin dingin.
Apa yang akan ku
lakukan untuk menyempurnakan bulan itu?
Langkah mana
yang akan ku ambil?
Diam dan terus
diam terbawa arus. Atau berdiri melawan arus. Jikalau aku memilih diam dan
terbawa arus. Maukah kau menjadi sungai dalam hidupku. Yang mengarahkan ku
hingga ke laut lepas yang indah. Megarahkan agar aku tetap bisa menjaga hati
diri dan imanku. Karena itulah yang dibutuhkan untuk membangun istana megah
kelak. Jangan kau kelokkan aku kembali ke selokan-selokan, parit-parit yang
penuh dengan sampah hingga hati diri dan imanku tergoyah dan penuh dengan
penyesalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar