Rabu, 16 April 2014

Antara Benteng, Rumah dan Istana


Kuat, keras, dan sangat kokoh. Itu yang ku harapkan dulu. Tapi itu dulu jauh sebelum kau datang. Datang mengunjungi benteng yang ku bangun bertahun-tahun ini. Benteng yang dulu berdiri tegak dengan segala kekuatannya kini semakin rapuh. Di sana Kau dapat melihat garis retak-retak seperti otot monster. Bahkan lubang-lubang pun tercipta, menganga seakan menyapa kehadiranmu. Saat itulah aku tak berdaya. Aku tak lagi dapat menembelnya dan menyiapkan amunisi untuk mempertahankan bentengku.
Taukan ketika getaran itu kau hadirkan, getaran yang terasa bagaikan gempa itu telah meruntuhkan bentengku secara perlahan. Bahkan ketika kau tiupkan tornado di pintu samping bentengku itu, semua isi bentengku hancur porak poranda.
Lalu aku harus bagaimana?


Aku tak berdaya jika ku harus membangun ulang benteng ini. Semua sudah terlanjur jauh. Sangat jauh menurutku. Bahkan kini kau telah membangun rumah dalam bentengku. Aku tak tahu dengan semua perbuatanmu. Apakah ini yang kau anggap baik, menghanjurkan demi menjajah negaraku?.
Pasukanku tak sekuat pasukanmu. Peluruku tak sebanyak pelurumu. Bahkan strategiku tak sejitu strategimu. Aku menyadari itu, bahkan aku tahu aku kalah darimu.
Saat-saat seperti inilah yang muai menyadarkanku, dulu ku mungkin mengatakan tak mungkin kau bisa kalahkan ku. Bahakan membangun rumah dalam negaraku. Tapi takdir Tuhan telah membantahnya. Apa yang terjadi?
Aku mulai nyaman dengan rumah yang kau bangun itu. Meski rumah itu bukan rumah idamanku, tapi aku suka dengan semua desain bahkan aku suka dengan interior yang kau pilih. Rumah ini sangat sederhana, jauh dari kesan mewah dan mahal. Tapi sungguh akau nyaman sekali dengan rumah mu.
Aku harap ini bukan kutukan dari tingkahku. Dan aku tak tau kenapa bisa begitu. Mungkin TAKUT itu yang ku rasa kini. Aku takut kau akan membongkar rumahmu dan meninggalkan puing-puing yang tak berarti di negeri ku ini. Aku takut kau akan mencari lahan baru yang lebih lebar dan lebih indah. Sungguh aku takut.
Kini aku merasa aku mulai takut kehilanganmu. Dan aku tak ingin rasa lain hadir dan membuatku semakin terkurung. Tapi aku tak kuasa mendengarkan omongan ajudan-ajudanku untuk tetap diam dan merasakan semua menjadi seperti air yang mengalir.
Aku tersadar dan mulai membuka mataku, ternyata aku mulai suka dan takut kehilangan. Tapi bisakah kau menjaga semua perasaan ku ini hingga kita dapat membangun kerajaan yang sangat kokoh?
Yang memiliki taman indah di dalamnya. Bahkan mengukirkan sebuah sejarah dunia yang sangat membahana. Jujur saja aku mengharapkan itu.
Namun aku tak bisa terus berbohong, bahwa aku juga takut terjajah seluruhnya oleh mu. Aku ingin kau memberikanku sedikit celah untuk tak terikat. Aku ingin kau memberi lubang udara di rumah yang kau bangun itu. Agar aku bisa menghirup udara segar jika ku di dalamya. Bahkan agar ku bisa melihat bulan yang bulatnya belum sempurna itu. Bulaan yang terlihat seperti kita yang dewasa tapi belum sempurna. Lalu timbullah sejumlah pertannyaan yang mungkin akan membuat kudukku semakin dingin.
Apa yang akan ku lakukan untuk menyempurnakan bulan itu?
Langkah mana yang akan ku ambil?
Diam dan terus diam terbawa arus. Atau berdiri melawan arus. Jikalau aku memilih diam dan terbawa arus. Maukah kau menjadi sungai dalam hidupku. Yang mengarahkan ku hingga ke laut lepas yang indah. Megarahkan agar aku tetap bisa menjaga hati diri dan imanku. Karena itulah yang dibutuhkan untuk membangun istana megah kelak. Jangan kau kelokkan aku kembali ke selokan-selokan, parit-parit yang penuh dengan sampah hingga hati diri dan imanku tergoyah dan penuh dengan penyesalan.



Tidak ada komentar: