Untuk
diriku,
Assalamualaikum
wr wb.
Diriku
bagaimana keadaanmu sekarang? Masihkah kau mengeraskan kepala mu? hai diriku
cobalah kau duduk sejenak dan tenangkan hati, pikirkan apa yang sudah ku
lakukan selama ini. Dan lihatlah tindakan yang sudah ku perbuat selama ini. Mampukah
membuat diri ku tenang?
Satu
tahun silam diriku masih tersenyum, tak mengerti dengan dampak ego yang masih
di keraskan di kepala. Ingin memenangkan apa pun demi diriku sendiri. Tak penah
menghargai upaya orang lain, bahkan mencibir dan mengelak kebenaran orang lain.
Menganggap mampu hidup tanpa pertolongan orang lain. Menganggap bisa sukses
tanpa kehadiran orang lain. Benarkah itu? Cobalah buka pintu kembali..
Hai diriku, masihkah kau kini menyalahkan orang lain, yang dulu pernah mewarnai hati dan hari dari diriku. Memberikan cinta yang tulus dan sucinya. Meluangkan waktu, hanya untuk sekedar membahagiakan satu sama lain.Merasa gundah ketika tak bisa memberikan yang terbaik. masihkah diriku membencinya?
Hai diriku, masihkah kau kini menyalahkan orang lain, yang dulu pernah mewarnai hati dan hari dari diriku. Memberikan cinta yang tulus dan sucinya. Meluangkan waktu, hanya untuk sekedar membahagiakan satu sama lain.Merasa gundah ketika tak bisa memberikan yang terbaik. masihkah diriku membencinya?
Hai..
diriku masihkah kau menyalahkan orang lain? Cobalah buka mata ku buka mana yang
sebenarnya harus berbenah, bukan mereka namun diriku!. Ketika ku ikhlas, mencoba
merangkak kembali, mencoba menjahitnya kembali, pasti diriku akan tau mana yang
sebenarnya harus dibenahi.
Hai diriku.. masihkah kau menyalahkan yang lain? Bukankah jika diriku ini dulu tak menerima, tak akan terjadi kesalahan melangkah. Bukankah jika diriku menutup jalan yang akan orang lain lalui, tak akan terjadi pendakian menuju puncak yang kini hanya akan di tinggalkan. jadi siapa yang salah? masih mau menyalahkan yang lain?
Hai diriku, sadarkah dari orang lain diriku belajar, belajar menapaki kehidupan yang keras, belajar bersikap mana yang baik, baik untuk diriku dan baik untuk orang lain. Hai diriku sadarkah orang lain memiliki hati seperti diriku, bisa bersedih, tersinggung, dan merasa bersalah. Hai diriku masihkah kau tak mengerti, tindakan ku bisa membuat hati orang lain merasa yang lain.
Hai diriku.. masihkah kau menyalahkan yang lain? Bukankah jika diriku ini dulu tak menerima, tak akan terjadi kesalahan melangkah. Bukankah jika diriku menutup jalan yang akan orang lain lalui, tak akan terjadi pendakian menuju puncak yang kini hanya akan di tinggalkan. jadi siapa yang salah? masih mau menyalahkan yang lain?
Hai diriku, sadarkah dari orang lain diriku belajar, belajar menapaki kehidupan yang keras, belajar bersikap mana yang baik, baik untuk diriku dan baik untuk orang lain. Hai diriku sadarkah orang lain memiliki hati seperti diriku, bisa bersedih, tersinggung, dan merasa bersalah. Hai diriku masihkah kau tak mengerti, tindakan ku bisa membuat hati orang lain merasa yang lain.
Hai
diriku, bukan saatnya lagi memaksakan apa yang orang lain lakukan sesuai dengan
hati ku, namun pahamilah hati orang lain, maka hati ku pun akan menerima.
Hai
diriku.. masih sajakah kau membenci dan menyalahkan orang lain, masih sajakah
kau sebal dengan orang lain? Bangkitlah diriku, jika tak ada orang lain diriku
tak akan belajar, belajar dari senang, sedih, kecewa, marah, lupa, dan segala
rasa yang bisa diriku pelajari.
Hai
diriku masihkah kau membatukan ego di kepalamu, masihkah memikirkan perasaan
dan tahta diriku sendiri?. Hai... sadarlah diriku, di mata Tuhan semua sama, tak ada yang
tinggi dan rendah kecuali iman yang benar-benar tulus. Hai diriku masihkah kau
tak mau berubah karena Tuhan, hai diriku masihkah kau menginginkan orang lain
menyesal, merubah diriku hanya untuk membuat orang lain menyesal?. Ingat hai diriku
mereka memiliki hati, bukan lah tujuan menyesalkan orang lain yang seharusnya diriku ambil,
tapi cobalah sesalkan diriku sendiri dengan menghadap malu di hadapan Tuhan
dari diriku.
Diriku
betapa sesungguhnya amat beruntung, bisa merasa dan belajar banyak dari
kehidupan. Yang penuh dengan lembaran pelajaran yang akan ku buka selembar demi
selembar tanpa tau warna, cahaya dan kisah nya. Hai diriku.. pantaskah
menyalahkan dan menyakitkan orang lain?
Diriku!!! mari meminta maaflah dengan tulus, tak ada yang sebenarnya salah di satu pihak, semua
terjadi bukan karena pihak yang lain, namun karena diriku yang sudah
menghendaki. Lalu.. masihkah tetap mengeraskan ego? Masihkah menamengi gengsi,
masihkan memenangkah hati yang keras. Hai diriku.. ayo ku harus berubah,
tersenyum, memikirkan hati yang tulus dan ikhlas, memikirkan segala perbuatan yang
baik, positif, dan baik bagi diriku dan orang lain. Hai diriku, ku ingin
berterimakasih pada ku. Karena bisa mendapat jalan yang baik, tak meneruskan
kehendak hati yang beku. Hai diriku terimakasih karena telah membuka lembar
yang lebih baik, dan diriku sekarang sudah saatnya tak menyalahkan yang lain namun
berbenah dengan ikhlas untuk diriku.
Hai
diriku, jangan menyalahkan keadaan lagi. Jangan menyakiti hati yang lain lagi. Jadilah
diriku yang baik dan selalu baik karena Tuhan ada untuk yang baik dan akan memberi
yang baik. Hai diriku.. tak ada lagi kata benci pada orang lain tanpa alasan. Karena
orang lain memiliki hati sama seperti diri ku. Terimakasih diriku, maafkan
diriku yang sempat menanam batu di kepalaku. Maafkan ku wahai diriku,, semoga
diriku menjadi diri yang selalu menjaga hati diriku dan orang lain yang ada di
kehidupan diriku.
Cintailah
diriku, cintailah hatiku wahai diriku. Terimakasih untuk orang lain yang memberi pelajaran berharga bagi diriku. Salam untuk ku dari diriku.
Wasaalamualaikum
wr wb
Diriku
11 April 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar