
Terbangun dengan
penuh mimpi, namun bukan mimpi si bunga tidur yang menghiasi tidur di
malam-malam seperti biasanya. Lebih tepatnya ini adalah mimpi tentang kehidupan
yang di rangkai oleh angan seorang manusia. Mungkinkah hanya aku yang
memikirkan hal ini. Aku tak memahaminya, sulit untuk terus aku perkirakan.
Ada yang bilang
janganlah hidup dengan perakira-prakira yang tak jelas akhirnya, karena mungkin
kau akan menyesalinya. Tetapi itu sangat menyulitkan, karena gudang memori di
sini amat kerap memikirkanya.
Terkadang
terbesit harapan di mana hanya memikirkan hal-hal yang menggembirakan saja, tak
ada dia, tak ada sedih, tak ada kecewa, tak ada menyesal, tak ada
ketergantungan kebahagiaan ketika sosoknya datang dan memancarkan senyumnya.
Sungguh aku merindukan hati dan pikiran yang masih murni.
Mungkin semua
ini salahku, jika aku tak menebar gula di sepanjang jalan maka semut tak akan
mengerumuni jalan kehidupanku. Tapi apa pantas aku mennyalahkan keadaan yang
sudah berlalu? Sedih? Ya aku sedih, karena hidup ini lama-kelamaan ku gunakan
untuk merenung, meratapi, menyesali, dan mendiam. Kapan aku bahagia? Entahlah
sulit untuk tertawa kembali.
Hidup yang dulu
nyata kini penuh dengan drama. Mungkin terlihat bahagia, namun ketika mendengar
bahkan melihat sosoknya yang membuat hati sensitive bersama sosok bunga yang
lain akan merasa betapa menyedihkanya kehidupanku. Mulai membenci orang lain
tanpa sebab, mulai selalu mengintai apa yang dilakukanya. Mulai selalu
mengganggunya dengan harapan dia menerima dan tak pernah merasa terganggu.
Mulai memandang tak ada lagi yang bisa menggantikan sosok pemberi kebahagiaan.
Mulai berfikir indahnya masa depan jika dirangkai bersama. Apakah pikiran ini
hanya ada padaku? Apakah ini salah? Tentu salah apa lagi jika mulai melakukan
hal bodoh karena matinya pikiran dan kesadaran. Lebih salah lagi jika mulai
berfikir Allah maha pemurah, penyayang dan pemaaf hingga leluasa meletakan
Allah jauh di pikiran yang sulit di gapai kembali. Dan dengan pikiran ini
kebodohan semakin selalu di lakukan.
Suara petir kini
semakin terdengar jelas. Rintik hujan pun menemani seorang perempuan yang sibuk
menuangkan pikiranya melalui tulisan. Jari jemarinya mulai sibuk, mulutnya
bergumam, matanya berkaca-kaca. Di tambah hawa dingi yang memaksanya terbaring
di pembaringan tempat tidur membuat suasana amat memilukan.
Jika saja, andai
saja, kalau saja, mungkinkah, apakah, bagaimana caranya, kenapa bisa, salah
siapa? Ya pertanyaan, tepatnya kata tanya itu yang selalu mengganggu pikiran
ini.
Perasaaan itu
sudah terlanjur amat kuat, hati ini sudah terlanjur amat rapuh, bahkan air mata
ini sudah terlanjur mudah meluap. Lantas apa yang bisa di lakukan?
Sebuah perintah
mengatakan bahwa sabarlah kuncinya, menunggu dengan di temani doa, bahkan
memohon di berikan yang terbaik, selalu berfikir positif, dan berusaha
memperbaiki kesalahan yang ada harus di utamakan.
Benarkah jalan
itu yang tepat? Terkadang terpikirkanlah hal yang amat membuat hidup terasa
malang. Mereka yang tak memiliki perasaan yang amat dasyat ini bisa bergurau,
menyampaikan kegembiraan dengan leluasa bersama, bercengkrama, menepuk bahu
kebersamaan, membantu dengan leluasa, menerima dengan keterbukaan yang lebar,
bahkan bisa dengan leluasa dekat seperti tak ada hal yang bisa membuatnya rusak
dan menyedihkan. Tetapi perasaan ini yang membuat kita berbeda, memilih
menjauh, memilih berdiam, memilih merelakan mendapatkan pertolongan dari yang
lain, memilih menghindari. Ya karena perasaan itu, semua tak leluasa. Walau
satu atap, walau berpapasaan, walau berdekatan, terasa berjuta tirai
memisahkan.
Banyak keinginan
yang sangat sulit untuk di lakukan, dunia kami yang berbeda bagai ufuk timur
dan barat. Sulit untuk di satukan. Selalu beranggapan bahwa pasti ada waktu
yang tepat untuk bisa menyatukan dunia ini. Tapi apakah ada jaminan bahwa hati
tetap akan menerima? Takut ya, selalu takut kehilangan, karena dunia yang amat
berbeda. Tau kah semenit memandang senyumnya dan suaranya tanpa ada rasa takut
untuk berpisah denganya adalah hal paling bahagia yang selalu aku nantikan.
Entahlah apa
yang akan Allah berikan, aku merasa tak pantas memohon dengan keadaan yang
selalu menyakiti hati Allah. Aku ingin memelihara, menjaga dan merawat yang
hati ini rasakan, dengan ridha Allah semata. Dan aku tak mengerti apakah Allah
masih memberi kesempatan. Semoga usaha ini benar-benar bisa memberikan dan
menguatkan hati menjadi kegembiraan yang amat hebat untuk bisa memandang senyumnya
dan mendengar suaranya hingga akhir kehidupan. Kekuatan pikiran positiflah yang
kini harus dengan giat di bangun, serta percayalah bahwa Allah maha memberi
dalam hal kebaikan, percayalah, yakinkanlah, keistiqomahan akan memberikan buah
yang amat manis nantinya. Bismillahirahmanirahim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar