Kamis, 20 Februari 2014

Tidur yang Ganjil

“4 tahun silam, umurku masih 14 tahun kala itu. Masih sangat teringat di memoriku.”
Hujan di pagi itu membuat aku merasa sedikit enggan bangun dari tidurku. Gentingpun gemeritik terkena hujatan air yang turun dari langit. Suara itu seolah terdengar bagai instrument pelelap tidur. Akupun tak bisa menahan dan tak bisa terhindar dari godaan suasana. Sebuah keputusan yang sangat mengecewakan, menarik selimut dan mendekap bantal guling adalah pilihan terakhir.
Permasalahannya ada di sini, dan itulah awal dari kisah ini. Kisah yang sangat mengganggu kenyamanan. Karena dari situlah aku memulai sebuah kejadian aneh yang masih berlangsung semenjak SMA hingga 4 bulan silam.

Begini ceritanya, pagi itu, aku mendengar sayup-sayup suara adzan subuh. Suara itu samar-samar sampai di telingaku, penyebabnya adalah hujan yang turun telah membuncahkan gelombang yang hinggap di gendang telingaku. Karena itulah aku enggan untuk bergegas dan beranjak dari tidur. Aku semakin terlelap dan seperti di hipnotis oleh pesulap handal. Namun aneh sungguh aneh. Hal ganjil terjadi dalam diriku, jiwaku memang terlelap dan sangat lelap namun ruh ini tak bisa untuk ikut terlelap. Aku berteriak, sangat kencang. Namun tak seorangpun mendengarku. Tak ada yang mendekatiku, tak ada yang menghiraukanku, bahkan aku merasa sendiri di ruangan ini. Di bumi ini dan di alam semesta ini.
Aku dibuat bingung dengan keadaan, takut, dingin, dan sngat menyiksa otakku. Aku mencoba untuk berteriak sekuat tenaga. Namun tetap tak ada respon. Keringatku mulai bercucuran, bajuku mulai basah, dan aku merasakan semua itu. Akhirnya kuputuskan untuk bangun dari tidurku, tapi apa yang terjadi. Aku tak dapat menggerakkan tubuhku, membuka matapun sangat sulit aku lakukan. Tanganku terasa sangat berat, tubuhku terasa sangat berat. Dan ternyata aku berteriak tak ada artinya tadi. Ruhku berteriak namun tubuhku terlelap. Aku semakin bingung dengan keadaan ini. Semakin lama otakku bergeliat, semakin lama aku semakin menduga-duga tak pasti. Mungkinkah… mungkinkah… Tuhan mengambil nyawaku, mungkinkah aku akan terpisah dari tubuhku, dan mungkinkah ini akhir hidupku.
Aku menangis, air mataku menetes di bantal. Dan aku merasakan air itu mengalir di pipiku. Namun aku tak bisa mengeluarkan sebuah suara apapun. Panas sungguh panas hati ini. Takutku tak karuan. Dan aku semakin bingung. Kenapa aku masih bisa merasakan yang tubuhku alami. Tapi mengapa aku tak bisa melakukan apapun terhadap tubuhku.
Hanya doa yang bisa aku panjatkan. “ya Allah jika kau memang memberikan hamba waktu di dunia ini berilah hamba kekuatan untuk menghadapi ini semua, sungguh hamba takut dengan keadaan ini”.
Perlahan-lahan mataku bergerak, berat sekali rasanya membuka kelopak mata. Terasa di sela kelopak mataku diberi lem yang amat merekat. Dan akhirnya mataku terbuaka, namun sungguh naas. Hanya bola mataku yang bisa aku gerakkan.
Aku melihat kakakku terbaring di sebelahku, aku mencoba memanggilnya. Namun lidahku tetap kelu… kaku dan amat sangat sulit aku gerakkan.
Keringatku masih mengucur, semakin deras, dan bajuku semakin basah. Ku tak henti-hetinya memanjatkan doa apapun yang aku bisa, suratan yang aku bisa, dan harapan-demi harapan yag tak berhenti keluar dari hatiku. Perlahan demi perlahan, jariku bergerak. Bergemetar dan akhirnya aku bisa menggoyangkan jemariku. Aku berusaha meraih tangan kakakku, berusaha membangunkannya. Dan berusaha untuk menyadarkan tubuhku sendiri.
Sengguh luar biasa aku masih bisa meraih kakak ku. Aku terbangun lagi, aku bisa terbangun dan suaraku kembali. Aku memanggil kakak ku. “Mba Ita” memanggil ibuku “mamah”. Dan aku bisa mendengar suaraku. Suaraku yang timbul dari pita suara. Semua itu membuat hatiku semakin bahagia, sangat bahagia. Layaknya aku hidup kembali.
Namun dibalik keberhasilanku melawan semua itu, timbul perasaan ganjil dan berjuta pertannyaan.
“apa yang aku alami tadi?”
“mengapa aku bisa begitu?”
Dan sungguh aku sangat menakutinya, aku tak berani memejamkan mataku kembali. Aku segera beranjak dari tempat tidur. Aku menemui ibuku yang sedang berada di dapur.
“mah masa tadi aku gak bisa bangun, aku gak bisa ngeluarin suara, padahal aku tadi udah teriak keras banget, kenapa ya mah?”
Ibuku hanya tersenyum dan berkata.
“makannya kalo tidur itu ya berdoa dulu, kalo udah waktunya sholat bangun jangan di tunda-tunda”.
Aku semakin bingung dan semakin penasaran.
“terus aku itu kenapa mah?”mencoba untu menegaskan.
“kamu tindien nun.”
Apa? Tindien apa itu. Aku segera menuju kamar mandi dan mengambil air wudlu. Dan beranjak mengerjakan sholat. Aku memanjatkan syukur yang tiada henti, karena aku masih hidup kembali. Sejak saat itu Aku mencoba untuk melupakan kejadian itu. Dan memutuskan untuk merubah kebiasaan buruk menunda-nunda waktu bangun pagi.
Tapi kejadian itu terulang kembali hingga aku masuk bangku kuliah. Hal buruk itu terjadi ketika aku mulai lelah dengan aktifitas yang siang hari aku lakukan. Tiba-tiba terlelap dan ruhku sebenarnya sadar. Sungguh hal yang amat ganjil. Aku mencoba mencari informasi ke internet. Dan sungguh menakutkan, dalam interet dikatakan bahwa orang dahulu mempercayai bahwa yang terjadi padaku adalah sebuah gangguan setan. Dari situ aku tak percaya. Aku tak berhenti mencari informasi, ternyata itu adalah sebuah kelainan tidur. Dimana bisa terjadi jika tubuh mulai lelah namun pikiran masih memaksakan untuk bekerja. Dan alhasil proses untuk tidur menjad tak normal diamana seseorang langsung terjun ke alam mimpi tanpa menempuh jalan penenang pikiran. Dan alhasil seolah-olah ruh terbangun dengan tubuh terlelap.
Kejadian itu namanya adalah sleep paralistis, dan orang Jawa bilang tindien. Tapi hal itu sungguh sangat sulit untuk dipercaya. Hingga saat ini aku masih binggung dengan yang terjadi. Dan alhamdulillah Akhir-akhir ini sudah tak pernah lagi aku alami. Karena pola tidur yang mulai aku jaga. Sungguh aku tak ingin lagi merasakan semua itu. Sangat menyiksa.
Semogaa hal itu tak terjadi lagi. Dan itu pelajaran hidup yang amat mendalam. Sujud sukur aku panjatkan atas rahmat Allah SWT karena masih diberi kesempatan.

Kejadian yang sangat luar biasa. Tak bisa diambil nalar. Dan sangat misterius. 

Tidak ada komentar: