“4 tahun
silam, umurku masih 14 tahun kala itu. Masih sangat teringat di memoriku.”
Hujan di pagi itu membuat aku merasa
sedikit enggan bangun dari tidurku. Gentingpun gemeritik terkena hujatan air
yang turun dari langit. Suara itu seolah terdengar bagai instrument pelelap
tidur. Akupun tak bisa menahan dan tak bisa terhindar dari godaan suasana.
Sebuah keputusan yang sangat mengecewakan, menarik selimut dan mendekap bantal
guling adalah pilihan terakhir.
Permasalahannya ada di sini, dan
itulah awal dari kisah ini. Kisah yang sangat mengganggu kenyamanan. Karena
dari situlah aku memulai sebuah kejadian aneh yang masih berlangsung semenjak
SMA hingga 4 bulan silam.
Begini ceritanya, pagi itu, aku
mendengar sayup-sayup suara adzan subuh. Suara itu samar-samar sampai di
telingaku, penyebabnya adalah hujan yang turun telah membuncahkan gelombang
yang hinggap di gendang telingaku. Karena itulah aku enggan untuk bergegas dan
beranjak dari tidur. Aku semakin terlelap dan seperti di hipnotis oleh pesulap
handal. Namun aneh sungguh aneh. Hal ganjil terjadi dalam diriku, jiwaku memang
terlelap dan sangat lelap namun ruh ini tak bisa untuk ikut terlelap. Aku
berteriak, sangat kencang. Namun tak seorangpun mendengarku. Tak ada yang
mendekatiku, tak ada yang menghiraukanku, bahkan aku merasa sendiri di ruangan
ini. Di bumi ini dan di alam semesta ini.
Aku dibuat bingung dengan keadaan,
takut, dingin, dan sngat menyiksa otakku. Aku mencoba untuk berteriak sekuat
tenaga. Namun tetap tak ada respon. Keringatku mulai bercucuran, bajuku mulai
basah, dan aku merasakan semua itu. Akhirnya kuputuskan untuk bangun dari
tidurku, tapi apa yang terjadi. Aku tak dapat menggerakkan tubuhku, membuka
matapun sangat sulit aku lakukan. Tanganku terasa sangat berat, tubuhku terasa
sangat berat. Dan ternyata aku berteriak tak ada artinya tadi. Ruhku berteriak
namun tubuhku terlelap. Aku semakin bingung dengan keadaan ini. Semakin lama
otakku bergeliat, semakin lama aku semakin menduga-duga tak pasti. Mungkinkah…
mungkinkah… Tuhan mengambil nyawaku, mungkinkah aku akan terpisah dari tubuhku,
dan mungkinkah ini akhir hidupku.
Aku menangis, air mataku menetes di
bantal. Dan aku merasakan air itu mengalir di pipiku. Namun aku tak bisa
mengeluarkan sebuah suara apapun. Panas sungguh panas hati ini. Takutku tak
karuan. Dan aku semakin bingung. Kenapa aku masih bisa merasakan yang tubuhku
alami. Tapi mengapa aku tak bisa melakukan apapun terhadap tubuhku.
Hanya doa yang bisa aku panjatkan.
“ya Allah jika kau memang memberikan hamba waktu di dunia ini berilah hamba
kekuatan untuk menghadapi ini semua, sungguh hamba takut dengan keadaan ini”.
Perlahan-lahan mataku bergerak, berat
sekali rasanya membuka kelopak mata. Terasa di sela kelopak mataku diberi lem
yang amat merekat. Dan akhirnya mataku terbuaka, namun sungguh naas. Hanya bola
mataku yang bisa aku gerakkan.
Aku melihat kakakku terbaring di
sebelahku, aku mencoba memanggilnya. Namun lidahku tetap kelu… kaku dan amat
sangat sulit aku gerakkan.
Keringatku masih mengucur, semakin
deras, dan bajuku semakin basah. Ku tak henti-hetinya memanjatkan doa apapun
yang aku bisa, suratan yang aku bisa, dan harapan-demi harapan yag tak berhenti
keluar dari hatiku. Perlahan demi perlahan, jariku bergerak. Bergemetar dan
akhirnya aku bisa menggoyangkan jemariku. Aku berusaha meraih tangan kakakku,
berusaha membangunkannya. Dan berusaha untuk menyadarkan tubuhku sendiri.
Sengguh luar biasa aku masih bisa
meraih kakak ku. Aku terbangun lagi, aku bisa terbangun dan suaraku kembali.
Aku memanggil kakak ku. “Mba Ita” memanggil ibuku “mamah”. Dan aku bisa
mendengar suaraku. Suaraku yang timbul dari pita suara. Semua itu membuat
hatiku semakin bahagia, sangat bahagia. Layaknya aku hidup kembali.
Namun dibalik keberhasilanku melawan
semua itu, timbul perasaan ganjil dan berjuta pertannyaan.
“apa yang aku alami tadi?”
“mengapa aku bisa begitu?”
Dan sungguh aku sangat menakutinya,
aku tak berani memejamkan mataku kembali. Aku segera beranjak dari tempat
tidur. Aku menemui ibuku yang sedang berada di dapur.
“mah masa tadi aku gak bisa bangun,
aku gak bisa ngeluarin suara, padahal aku tadi udah teriak keras banget, kenapa
ya mah?”
Ibuku hanya tersenyum dan berkata.
“makannya kalo tidur itu ya berdoa
dulu, kalo udah waktunya sholat bangun jangan di tunda-tunda”.
Aku semakin bingung dan semakin
penasaran.
“terus aku itu kenapa mah?”mencoba
untu menegaskan.
“kamu tindien nun.”
Apa? Tindien apa itu. Aku segera
menuju kamar mandi dan mengambil air wudlu. Dan beranjak mengerjakan sholat.
Aku memanjatkan syukur yang tiada henti, karena aku masih hidup kembali. Sejak
saat itu Aku mencoba untuk melupakan kejadian itu. Dan memutuskan untuk merubah
kebiasaan buruk menunda-nunda waktu bangun pagi.
Tapi kejadian itu terulang kembali
hingga aku masuk bangku kuliah. Hal buruk itu terjadi ketika aku mulai lelah
dengan aktifitas yang siang hari aku lakukan. Tiba-tiba terlelap dan ruhku
sebenarnya sadar. Sungguh hal yang amat ganjil. Aku mencoba mencari informasi
ke internet. Dan sungguh menakutkan, dalam interet dikatakan bahwa orang dahulu
mempercayai bahwa yang terjadi padaku adalah sebuah gangguan setan. Dari situ
aku tak percaya. Aku tak berhenti mencari informasi, ternyata itu adalah sebuah
kelainan tidur. Dimana bisa terjadi jika tubuh mulai lelah namun pikiran masih
memaksakan untuk bekerja. Dan alhasil proses untuk tidur menjad tak normal
diamana seseorang langsung terjun ke alam mimpi tanpa menempuh jalan penenang
pikiran. Dan alhasil seolah-olah ruh terbangun dengan tubuh terlelap.
Kejadian itu namanya adalah sleep
paralistis, dan orang Jawa bilang tindien. Tapi hal itu sungguh sangat sulit
untuk dipercaya. Hingga saat ini aku masih binggung dengan yang terjadi. Dan
alhamdulillah Akhir-akhir ini sudah tak pernah lagi aku alami. Karena pola
tidur yang mulai aku jaga. Sungguh aku tak ingin lagi merasakan semua itu.
Sangat menyiksa.
Semogaa hal itu tak terjadi lagi. Dan
itu pelajaran hidup yang amat mendalam. Sujud sukur aku panjatkan atas rahmat
Allah SWT karena masih diberi kesempatan.
Kejadian yang sangat luar biasa. Tak
bisa diambil nalar. Dan sangat misterius.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar