"Meninggalkan kesan yang akan membangun pikiran itulah yang ada pada Jejak, sebuah mini magazine yang merupakan tugas dari diklatsar MOTIVASI"
Sore itu pukul 15.00 WIB, sinar mentari masih mendayu dayu menghiasi langit. Aku menggendong tas ransel berwarna krem yang menggelembung karena kekenyangan dengan beberapa stel baju yang ku bawa. Ku kenakan baju putih bermotif bunga-bunga, jaket, dan celana jeans berwarna biru. Melangkah selangkah demi selangkah menuju sekre LPM MOTIVASI, langkah ku diiringi angin yang meniupkan suaranya menggerincing di kuping. Setelah beberapa saat menunggu dan berkumpul aku dan rombongan peserta diklatsar bergegas menuju bus MAJU LANCAR untuk meluncur ke Tawangmangu.
Bus yang terlihat sudah separuh baya memacu gas dan melewati jalan yang berlika-liku, meliuk-liuk dengan lincahnya melewati pegunungan yang terjal. Sejenak aku memandangi paronama yang begitu asri, pohon pinus yang berjajar di sepanjang jalan terlihat begitu segar karena ia selalu menghirup udara yang segar. Seketika ku ingat film Twilight, suasana itu menggambarkan apa yang ada di filem. Ku buka jendela bus lebar-lebar taringku seolah-olah menjulur layaknya Bella yang merindukan darah segar di dunia namun sayang tak ada Edward yang mengajak ku terbang memanjat pohon-pohon tinggi hingga menembus balik gunung melihat lautan yang begitu eksotik. Aku bergegas sadar dengan imajinasi ku yang tak nyata itu segera ku nikmati pemandangan yang terlihat eksotik, udara yang segar seakan-akan menguras paru-paru yang kotor akan udara kota Surakarta. Ku rasakan dinginnya angin dan udara yang menusuk kulitku dan menembus daging hingga menjilati tulang-tulangku.
Sore seakan-akan mulai melambaikan tangannya mengucapkan sampai jumpa saat rombongan sudah tiba di Tawangmangu. Ku lihat sebersit kelam yang menyapaku dengan hangat dan mengantarkanku ke salah satu Wisma yang bernama SRI DEWI. Ku lepaskan sepatu sendal di salah satu ujung teras wisma itu. Memasuki ruangan yang diterangi lampu neon dan mencari kamar yang kurasa cocok. Kita saling berbagi kamar, dan aku mendapat salah satu kamar yang berada di paling pinggir dekat pintu masuk. Terlihat dua dipan kasur yang dibalut seprai dan dihiasi dua bantal yang dibalut sarung bantal berwarna kuning dan saat itu kami membagi kamar itu dengan lima orang. Aku, Widya (teman satu prodi), Elsa, Kiki, dan Mba Dwi(ku panggil mba karena dia merupakan mahasiswa ngkatan 2012).
Senag itulah pertama kali yang kurasa, karna aku sekamar dengan Widya, dan Elsa yang notabene sudah ku kenal sebelumnya, dan aku merasa Kiki dan mba Dwi juga sangat baik terhadapku.
Sore seakan-akan mulai melambaikan tangannya mengucapkan sampai jumpa saat rombongan sudah tiba di Tawangmangu. Ku lihat sebersit kelam yang menyapaku dengan hangat dan mengantarkanku ke salah satu Wisma yang bernama SRI DEWI. Ku lepaskan sepatu sendal di salah satu ujung teras wisma itu. Memasuki ruangan yang diterangi lampu neon dan mencari kamar yang kurasa cocok. Kita saling berbagi kamar, dan aku mendapat salah satu kamar yang berada di paling pinggir dekat pintu masuk. Terlihat dua dipan kasur yang dibalut seprai dan dihiasi dua bantal yang dibalut sarung bantal berwarna kuning dan saat itu kami membagi kamar itu dengan lima orang. Aku, Widya (teman satu prodi), Elsa, Kiki, dan Mba Dwi(ku panggil mba karena dia merupakan mahasiswa ngkatan 2012).
Senag itulah pertama kali yang kurasa, karna aku sekamar dengan Widya, dan Elsa yang notabene sudah ku kenal sebelumnya, dan aku merasa Kiki dan mba Dwi juga sangat baik terhadapku.
Hal yang pertama paling ingin ku lihat dan kurasakan adalah air yang dingin aku menuju kamar mandi, ku basuh kedua tangan ku dan kedua kaki rasanya begitu dingin, air yang seolah-olah memijat-mijat kulitku dan membuat badan ku semaki segar. Aku sangat menyukai daerah itu, hingga muncul sebuah mimpi baru. dia adalah rumah. Ia, rumah kecil nan nyaman di sebuah pegunungan dan bernuansa pedesaan yang sangat asri. Rumah itu memiliki tenaga listrik yang bersumber dari mata air yang mengalir di samping rumah. Aku rasa seperti kisah Carl dan Ellie di film animasi dengan judul UP. Itulah Tawangmangu, segar, indah, dingin, sejuk, ya.... tidak jauh beda dengan Puncak.
Aku berada di sana karena merupakan tuntutan bagi seorang jurnalis di kampus. Itulah yang sangat aku inginkan. Aku bisa merasakan dunia jurnalis yang lebih lebar dari sebelumnya. Dahulu aku ingin sekali masuk ke dunia sastra. ataupun pendidikan bahasa Indonesia. Karena takdir, dan berujung agak tak sepadan, akhirnya aku masuk ke dunia luar biasa. Tak apa!, "pikirku". Karena jalan untuk menyalurkan hobi masih sangat banyak.
hemmm... kok malah cerita itu...
mari beralih lagi!!!!
oke..
di Tawangmangu aku ditugaskan untuk membuat suatu mini magazine.. dan... tara..aaa... peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Kalo gak salah kelompokku ada 7 orang. Mereka adalah aku, Elsa, Aristi, Diyah, Hasan, Ardi, dan Heti. Mereka adalah orang-orang yang solid, dan sangat mudah di ajak berkerja sama, dan aku suka itu. dan dalam mengerjakan si "Jejak" kami membagi tugas secara profesional...
Sangat banyak rintangan dan halangan yang kami temui, mulai dari sulit nentuin tema, cari narasumber, dan masih banyak lagi. Di waktu itu, aku mendapatkan tugas yang lumayan bisa aku kuasai. Tugas ku adalah Layout.. nah karena aku dapat tugas itu, secara otomatis aku memperhatikan materi Layout dari mba Sesil dan mas Fajar. kalo gak salah sih itu pembawa materinya.. hehe... :)
Dan berkat dari situlah aku mulai bisa tahu, gimana layout yang bener dan enak di pandang. Aku merancang gambar dan teman-teman sibuk menulis. aku juga tetep minta saran mereka loh.. Mereka menyumbangkan imajinasi mereka dalam goresan ku. Dan karena Tawangmangu adalah kota yang sangat mudah untuk berbisnis, maka tema majalah kita adalah bisnis di Tawangmangu.
Sangat menyenangkan... aku sangat suka dengan tugas itu. tugas ini merupakan sebuah ajang untuk menuangkan bakat asli seseorang... bukan acara-acara di TV kaya X-VACTOR dsb, loh ya?
Dan di akhir acara, HASILNYA.... "JEJAK" mendapat juara 2.. Walaupun juara 2, aku sangat bangga. Karena "Jejak" magazine adalah majalah manual pertamaku. Itu semua membuka kenanganku pada masa SMA sebagai jurnalis sekolah...
semangat JURNALISTIK...
mari menulis dan kritis akan kehidupan kita, agar kita menjadi manusia yang paham akan perubahan.. :)
SEMANGAT... HEHEHE :)
Aku berada di sana karena merupakan tuntutan bagi seorang jurnalis di kampus. Itulah yang sangat aku inginkan. Aku bisa merasakan dunia jurnalis yang lebih lebar dari sebelumnya. Dahulu aku ingin sekali masuk ke dunia sastra. ataupun pendidikan bahasa Indonesia. Karena takdir, dan berujung agak tak sepadan, akhirnya aku masuk ke dunia luar biasa. Tak apa!, "pikirku". Karena jalan untuk menyalurkan hobi masih sangat banyak.
hemmm... kok malah cerita itu...
mari beralih lagi!!!!
oke..
di Tawangmangu aku ditugaskan untuk membuat suatu mini magazine.. dan... tara..aaa... peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Kalo gak salah kelompokku ada 7 orang. Mereka adalah aku, Elsa, Aristi, Diyah, Hasan, Ardi, dan Heti. Mereka adalah orang-orang yang solid, dan sangat mudah di ajak berkerja sama, dan aku suka itu. dan dalam mengerjakan si "Jejak" kami membagi tugas secara profesional...
Sangat banyak rintangan dan halangan yang kami temui, mulai dari sulit nentuin tema, cari narasumber, dan masih banyak lagi. Di waktu itu, aku mendapatkan tugas yang lumayan bisa aku kuasai. Tugas ku adalah Layout.. nah karena aku dapat tugas itu, secara otomatis aku memperhatikan materi Layout dari mba Sesil dan mas Fajar. kalo gak salah sih itu pembawa materinya.. hehe... :)
Dan berkat dari situlah aku mulai bisa tahu, gimana layout yang bener dan enak di pandang. Aku merancang gambar dan teman-teman sibuk menulis. aku juga tetep minta saran mereka loh.. Mereka menyumbangkan imajinasi mereka dalam goresan ku. Dan karena Tawangmangu adalah kota yang sangat mudah untuk berbisnis, maka tema majalah kita adalah bisnis di Tawangmangu.
Sangat menyenangkan... aku sangat suka dengan tugas itu. tugas ini merupakan sebuah ajang untuk menuangkan bakat asli seseorang... bukan acara-acara di TV kaya X-VACTOR dsb, loh ya?
Dan di akhir acara, HASILNYA.... "JEJAK" mendapat juara 2.. Walaupun juara 2, aku sangat bangga. Karena "Jejak" magazine adalah majalah manual pertamaku. Itu semua membuka kenanganku pada masa SMA sebagai jurnalis sekolah...
semangat JURNALISTIK...
mari menulis dan kritis akan kehidupan kita, agar kita menjadi manusia yang paham akan perubahan.. :)
SEMANGAT... HEHEHE :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar